Grafik data penurunan Pendapatan Industri Ritel dan F&. (sumber :
mokapos.com)
Tangerang, 30 April 2020 - Penyebaran Novel
Coronavirus atau COVID-19 belum terbendung sejak akhir 2019. Tak kunjung
mereda, COVID-19 kini sudah ditetapkan sebagai virus pandemi oleh World Health
Organization (WHO). Perilaku manusia di seluruh penjuru dunia pun berubah
akibat penyebaran virus ini, termasuk kegiatan jual-beli pada masyarakat, yang
berdampak pada sektor perekonomian di seluruh negara. Banyak industri yang
terkena imbasnya, termasuk industri F&B, jasa, dan ritel.
Untuk mengetahui dampak nyatanya, Moka startup
penyedia layanan kasir digital untuk lebih dari 30.000 merchant di Indonesia
melakukan observasi di 17 kota di Indonesia yang terkonsentrasi di Jabodetabek,
Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Batam, dan Bali. Untuk industri
F&B, dari 17 kota yang diobservasi, sebanyak 13 kota mengalami penurunan
pendapatan harian yang signifikan. Bali dan Surabaya merupakan dua kota yang
mengalami penurunan pendapatan harian yang paling signifikan dibandingkan
dengan kota lain dengan masing-masing mengalami penurunan sebesar 18% untuk
Bali dan 26% untuk Surabaya.
Daerah Jabodetabek juga mengalami penurunan
pendapatan harian yang cukup signifikan, namun tidak setajam Bali dan Surabaya.
Wilayah yang terkena dampak di daerah Jabodetabek yang paling signifikan
terjadi di Depok, Tangerang, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Anjuran dari
pemerintah untuk tidak keluar dari rumah guna memperlambat laju penyebaran
COVID-19, membuat masyarakat tinggal lebih banyak di rumah, dan juga memberi
dampak pada industri F&B.
Perubahan perilaku ini menyebabkan peningkatan
pembelian makanan yang dibawa pulang (take-away food) meningkat sebesar 7% di
bulan Januari hingga Februari 2020. Sementara itu, pada industri jasa, 10 dari
17 kota di Indonesia menunjukkan penurunan pendapatan harian yang signifikan. Lima
kota dengan penurunan pendapatan harian paling signifikan adalah Depok, Bekasi,
Jakarta Timur, Batam, dan Bandung.
Penurunan pendapatan harian terbesar terjadi di
Jakarta Barat dengan penurunan pendapatan hingga 32% per outlet. Dari data di
atas dapat disimpulkan bahwa industri F&B merupakan industri yang paling
terdampak COVID-19, melihat dampaknya yang tersebar paling banyak. Namun,
apabila melihat persentase penurunan pendapatan harian terbesar, industri ritel
mengalami penurunan yang terbesar, yakni menurun sebesar 32%. Sementara itu,
Leonard Theosabrata, Direktur Utama SMESCO mengatakan Kementerian Koperasi dan
UKM Indonesia memberikan langkah-langkah mengantisipasi fenomena yang berdampak
pada performa bisnis UKM. Satu hal yang menjadi pesan utama adalah dalam
survival mode ini adalah untuk memprioritaskan berjalannya cash flow bisnis
dengan baik, dibandingkan dengan memikirkan profit.
“Pelaku usaha harus dapat bertahan selama tiga
sampai enam bulan kedepan. Perlu adanya perubahan proses bisnis sementara agar
cash flow bisnis tetap positif,” jelas Leonard. Strategi yang dapat dilakukan
adalah dengan mengulas kembali bisnis, kenali customer base dan kebutuhannya,
permudah proses bisnis, klasifikasikan produk yang mudah dijual. Lalu melakukan
digitalisasi produk usaha ke dalam katalog yang mudah dibagikan, perdalam stok
barang, dan beri insentif kepada karyawan yang mampu memberikan performa baik
dalam keadaan sulit seperti saat ini.

Komentar
Posting Komentar